Teori Pasar Modal didunia dan indonesia yang dikaitkan dengan adanya Covid-19
''Perkembangan pasar modal didunia dan indonesia yang dikaitkan dengan adanya Covid-19''
Dengan adanya Pandemi Covid-19 yang membawa dampak signifikan terhadap perdagangan di lantai bursa, serta BEI (Bursa Efek Indonesia) ditunjukkan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu belakangan. Dari data akhir 17 April 2020 menunjukkan indikator perdagangan mengalami penurunan dibanding 2019. Ada berbagai macam indikator yang bisa terlihat dari penurunan transaksi perdagangan ini. Misalnya saja, jika melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada pekan lalu berada di angka 4.635. Penurunan signifikan terhadap perdagangan di bursa juga terdapat pada Maret 2020, saat pemerintah mengumumkan dua kasus positif Covid-19 di Indonesia. Sampai saat ini pasar keuangan terkena dampak negatif baik dalam dan luar. Situasi ini terus bertahan sampai IHSG dapat level terendah pada 24 Maret, turun 37,49 persen dibanding akhir tahun lalu. Jika dilihat dari grafik perdagangan secara global hampir seluruh indeks global mengalami penurunan. Penurunan tertinggi terjadi di Austria sebanyak 35,05 persen.Sementara penurunan kapitalisasi tertinggi sebesar 3 triliun dolar AS. Indeks turun 26,43 persen ini per 17 april 2020, dan diikuti penurunan kapitalisasi pasar saham 180 miliar dolar AS.
Berdasarkan keterangan resmi BEI bahwa optimisme pasar modal Indonesia ditengah pandemi Covid-19 terus berkembang. Terpantau sampai dengan 23 April 2020, telah tercatat 26 (dua puluh enam) perusahaan baru di BEI dan ikut berkontribusi dalam memajukan industri Pasar Modal Indonesia. Kemudian, sebesar 65% Perusahaan Tercatat pada tahun 2020 menunjukkan tren kenaikan harga saham sejak awal saham-sahamnya mulai dicatatkan di BEI. Tidak hanya itu, sampai dengan 23 April 2020, sudah terdapat 28 (dua puluh delapan) perusahaan yang masuk ke dalam pipeline pencatatan efek baru. Tercatat sampai dengan akhir Maret 2020, Bursa masih mencatatkan pertumbuhan investor sebesar 8% dari tahun 2019 lalu, menjadi 2,68 juta investor yang mencakup investor saham, reksa dana, dan obligasi. Sedangkan untuk investor saham, jumlahnya mencapai 43% dari total investor tersebut dan meningkat 5% dari tahun lalu. Hal ini menunjukkan tingginya minat calon investor dalam memanfaatkan momentum untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia.
Perbandingan keadaan pasar modal sebelum masa new normal dan sesudah new normal :
Keadaan sebelum new normal : Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menerapkan batas auto reject bawah asimetris, yang mana batas bawah ditetapkan 7 persen untuk mengantisipasi anjloknya harga saham akibat tekanan pandemi. Dan pasar masih akan volatil serta sulit untuk diprediksi,
Keadaan Sesudah new normal : Memasuki era new normal di pertengahan 2020 Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) New normal Bisa memulihkan pasar secara bertahap tetapi tetap harus dipantau sesuai perkembangan yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Apalagi proses transisi ini diperkirakan bisa berjalan mulus karena persiapan dari berbagai penanganan sudah cukup baik. Karna adanya dampak dari tatanan kenormalan baru harga saham saat ini sudah mulai mengalami kenaikan, kenaikan ini terjadi karna banyak inverstor yang melakukan akumulasi beli.
Good kawan
BalasHapusGood job
BalasHapusGood 👍
BalasHapusSemoga bermanfaat 👍👍
BalasHapus👍👍
BalasHapus